Entri Populer

Senin, 31 Desember 2012

Rain and Umbrella

Quotation : ” Heavy rains remind us of challenges in life. Never ask for a lighter rain. Just pray for a better umbrella. That is attitude”.



Jangan berharap akan cobaan yang lebih ringan, tapi berharaplah kau bisa punya kekuatan dan pelindungan yang lebih besar. Bukankan semua sudah terjadi sesuai kadarnya? “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya” (QS. Al Baqarah:286).

 

Filosofi Payung (repost)


Payung punya fungsi penting bagi sebagian aktivitas manusia. Selain melindungi manusia dari terik matahari, payung juga menjadi pelindung di saat hujan. Payung juga punya makna konotatif yang berarti pelindung atau penjaga seperti terlihat dalam peribahasa yang menyebutkan ‘sedia payung sebelum hujan’. Dalam peribahasa ini, payung punya makna pelindung yang harus disiapkan sebelum terjadi hal-hal buruk.

Selain itu, ada juga makna religius yang terselip di balik payung. Sekitar 1.000 tahun sebelum masehi, payung sudah dikenal oleh bangsa Mesir kuno. Cuma, tidak seperti zaman sekarang, payung di masa itu hanya bisa digunakan oleh kalangan tertentu. Penggunaan payung oleh kalangan khusus ini juga punya makna tersendiri.

Bangsa Mesir kuno menggunakan payung sebagai simbol religius. Saat itu, payung hanya bisa digunakan oleh mereka yang dianggap dan dinobatkan sebagai tokoh religius. Tinggi rendahnya status mereka di mata masyarakat, dibedakan oleh panjang tangkai payung yang dikenakan. Makin panjang tangkainya, berarti yang bersangkutan punya posisi lebih tinggi dalam aktivitas religius di tengah masyarakat.

Yang tangkai payungnya paling panjang, tentu sang raja atau penguasa tertinggi. Bawahan-bawahannya punya tangkai payung, disesuaikan juga dengan kewenangan yang dimiliki. Penggunaan payung untuk kalangan pesohor di Mesir saat itu juga dimaknai bahwa kubah dari surga melindungi kekuasaan para bangsawan dan tokoh religius.

Selain Mesir, masyarakat Yunani kuno juga diketahui biasa memakai payung. Bedanya, seperti ditulis situs literary-liaisons.com, masyarakat Yunani kuno menjadikan payung sebagai simbol erotisme. Barangkali, di zaman sekarang simbol erotisme payung seperti ini bisa terlihat dari para umbrella girl yang mengiringi balapan mobil atau motor.

Di abad pertengahan, payung juga banyak digunakan oleh masyarakat Asia dan Afrika. Saat itu daratan Eropa belum banyak menggunakannya. Hingga sekitar abad ke-16, payung di kedua wilayah tersebut banyak digunakan untuk menyempurnakan kebutuhan fashion. Begitu para penjajah Eropa datang ke Asia, budaya payung ini pun menyebar. Mereka membawa budaya payung ini ke Eropa.

Mulanya, payung populer digunakan oleh masyarakat Portugal. Kemudian dari sini, payung menyebar ke Prancis sebagai bagian dari fashion. Para raja Prancis dan Inggris saat itu menggunakan payung dalam pesta-pesta atau upacara pernikahan. Dari sini kemudian fungsi payung mulai dikembangkan. Pada akhir abad ke-16, payung tidak lagi digunakan sebagai perlengkapan fashion, tapi mulai dimanfaatkan untuk melindungi diri dari panas dan hujan.

Memasuki abad ke-18, budaya payung sudah menyebar ke banyak wilayah. Masyarakat dunia sudah mengenalnya untuk berbagai tujuan. Terkadang payung digunakan untuk kepentingan religius, seperti memayungi raja atau jenazah yang hendak dikubur. Pada kesempatan lain, payung juga punya fungsi erotis, dan fungsi melindungi. Saat ini, payung juga menjadi salah satu alat untuk mencari nafkah bagi sebagian orang yang bekerja menjadi ojek payung di musim hujan.

Minggu, 30 Desember 2012

Reason



"I've been beaten down, I've been kicked around,
But he takes it all for me.
And I lost my faith, in my darkest days,
But he makes me want to believe.
 They call his love, love, love, love, love.
They call his love, love, love, love, love.
he is love, and he is all I need."...... coz you're the reason


Sabtu, 29 Desember 2012

Monolog

Wajahnya seolah tertinggal dalam kelopak mata dan tak pernah tahu bagaimana cara mengembalikannya
Suaranya begitu sering menggema-gema dalam kepala 
Gerak tubuhnya selalu mengusik pikiran, tetapi membahagiakan
Hadir harapan untuk lebih dekat padanya
Ingin lebih lama bersamanya
Ingin berbincang dengannya
Apa ini cinta?


Bisakah Kau Jelaskan?



Bisakah kau katakan kepadaku dengan segera apa yang lebih kejam dari sekumpulan kenangan? Seperti pisau yang dihantamkan bertubi-tubi ke kepala atau sehamparan daun kering yang jatuh sebelum waktunya. Seperti menatap bayangmu tiba-tiba menjauh dan lekas hilang di tikungan.

Sementara kumparan pita kaset tua tempat kita merekam ingatan belum lagi sempat kugulung rapi, kau sambil tersenyum meletakkan dua batang korek api di atas tanganku yang terbuka dan berdarah. Bisa kau jelaskan harus dengan apa kurapikan halaman kita? Membakarnya atau membingkai ia dalam pigura pelangi bercahaya?

Apa yang lebih kejam dari sekumpulan kenangan ketika kau mengirim kata 'mundur' dan 'menyerah' dari jarak yang begitu jauh. Bisakah kau jelaskan sambil menggenggam tanganku yang mulai rapuh?


Kau Ingat?



Bukankah saat itu kau dan aku saling menyapukan warna dan menuliskan fakta bahwa kita jatuh cinta? Tapi ternyata kau hanya menyusun daftar isi dan bab terakhir sementara aku terpaksa merangkak menata halaman demi halaman yang menolak dibaca kembali.
Aku inginkan pembatas buku, katamu. lalu kau menyisipkan pisau tepat di bagian cerita yang ingin aku baca. Paragraf yang ingin kau lupakan. Kemudian aku berharap bisa mengenangmu seperti butiran permen berwarna cerah yang kau beri dahulu sebelum kau membunuhku tanpa sebuah peringatan.
Bukankah ketika itu kau berkata akan memberiku kesempatan?

Di Depan Cermin


Tak ada yang berubah meski kenangan sudah berhasil kau kemas dan luka tak lagi membuatmu cemas. Sebab kepergian selalu terasa nyata dan kesepian selalu mencari teman. Di depan cermin ada sejarah yang mengulang-ulang dirinya, memanggilmu dari kejauhan. Aku bersembunyi di sudut lain membiarkanmu menatap wajah yang selama ini bertarung dengan ragu: benarkah sejauh ini pernah ada kita di situ?

Tak ada yang terganti meski ingatan tergulung rapi dan kau sudah menyediakan ruang yang lain lagi. Sebab raung yang kau peram selalu memantulkan diri setiap kali kau mulai meraba pipi: di depan cermin kau membayangkan tanganku mengusap lagi wajahmu, menyentuh kembali kenangan itu. Ada yang mengalir di pipimu tapi bukan airmata. seperti ingatan yang mencair dan mencari rumah. Rindu yang pergi dan pulang ingin sekali rebah.

Tak ada rumah yang kau ingat di balik cermin itu. Sebab tak pernah ada kau dan aku.

Jumat, 28 Desember 2012

Menjadi Sempurna


Persahabatan itu seumpama laut dan pasir; senantiasa bersama-sama menghadapi pecahan ombak, bersama-sama merasakan lelehan senja, dan saling melengkapi dari masa ke masa. Aku berani bertaruh, seseorang tanpa sahabat akan merasa betapa kesepian dirinya. Bagai sebatang pohon kaktus di padang-padang pasir. Dan, aku berani bertaruh lagi, betapa mengagumkannya persahabatan itu. Seperti pelangi barangkali. Tiada pernah bosan dipandang mata, sekalipun warnanya tak pernah berganti :)

Seebuah Prolog



Cinta pernah datang mengendap-endap dalam kehidupanku. Lalu, pada detak-detak yang tak aku ketahui sebelumnya, cinta menyergapku dengan sepasang sayapnya yang lembut bagai serpihan awas di langit. Awalnya aku mengelak bahwa cinta bukan begini. Tetapi,semakin aku mengelak, cinta kian erat mendekapku. Melumpuhkanku. Membungkukannu. Dan.. menyihirku
Cinta tak akan pernah mengumumkan kedatangannya. Cinta begitu saja menyusup, mengelus-elus sesuatu yang lembut di liang hati, memedar sekian lama, sampai akhirnya membaur bersama hati dalam bilangan waktu yang tak terkatakam. Cinta itu masih di sini, di hati, sampai nanti dan untuk selama-lamanya. Pada seorang pria yang telah membawaku menapaki cinta untuk kali pertama....